Perdana di 2024, Pengajian Rutin Ahad Pon, Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU) Ponorogo

Ngaji Rutin Ahad Pon LD PCNU Ponorogo

Ahad, 07 Januari 2024, Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU) Kabupaten Ponorogo menggelar pengajian rutin Ahad Pon untuk pertama kalinya di tahun 2024. Turut hadir dalam pengajian tersebut jajaran Masyayikh Ponorogo diantaranya KH. Sholikhan  Al Hafidz, Kyai Muhammad Nur Sholikhin Al Hafidz, KH. Sugeng Al Wahid, KH. Hasyim Asy’ari dan masih banyak lagi.

Para Masyayikh bersama Kang Giri di Pengajian Rutin Ahad Pon LD PCNU Ponorogo

Pada kesempatan kali ini LD PCNU menghadirkan beliau Romo Kyai Muhammad Nur Sholikhin Al Hafidz dari Bojonegoro, yang saat ini juga membawahi LD PCNU Ponorogo sebagai pembicara. Meskipun tanpa pemberitahuan dengan undangan atau semacamnya, kegiatan pengajian rutin ahad pon ini sudah menjadi rutinitas bagi warga Nahdliyin di Kabupaten Ponorogo. Sehingga jamaah yang hadir pada hari ini diperkirakan mencapai lebih dari 2.000 orang.

Jamaah Pengajian Rutin Ahad Pon

Acara dibuka dengan pembacaan tahlil yang dipimpin langsung oleh beliau KH. Sholikhan  Al Hafidz sekaligus sebagai penanda bahwa rangkaian acara pengajian telah dimulai.

Selanjutnya KH. Sholikhan Al Hafidz membuka acara sekaligus memberikan sambutan mewakili PCNU. Dalam sambutanya beliau menghimbau agar masyarakat Nahdliyin tetap tenang dan hikmat. Beliau menyampaikan “ojo rame-rame lan ojo geger, diterimo wae taqdire Gusti Allah sebagai anugerah”.

KH. Sholikhan Al Hafidz Memimpin Tahlil sekaligus Sambutan Mewakili PCNU

Hadir juga pada acara tersebut beliau Bupati Ponorogo, Bapak Sugiri Sancoko atau yang akrab disapa “Kang Giri”. Dalam kesempatan ini Kang Giri juga menyampaikan sambutan singkat yang intinya meminta do’a kepada para jamaah agar beliau selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam semua urusannya.

Bupati Ponorogo Kang Giri Memberikan Sambutan dalam Kegiatan Pengajian Rutin Ahad Pon

Pada acara inti, Romo Kyai Muhammad Nur Sholikhin Al Hafidz menyampaikan kisah teladan dari sahabat nabi tentang amalan yang pahalanya luar biasa dan bisa diraih dalam waktu yang singkat.

Kisah tersebut menceritakan salah seorang sahabat nabi yang umurnya diperkirakan kurang dari 1 jam. Kemudian sahabat tersebut bimbang dan menemui Rosulullah untuk menanyakan beberapa hal dan meminta petunjuk kepada Rosul tentang amalan yang cocok untuk dijadikan bekal saat umurnya di dunia sudah habis. Mengingat waktu yang tersisa hanya tinggal 1 jam, maka Rosul memberikan 1 amalan yang ringan tetapi sangat tinggi pahalanya. Amalan yang dimaksud Rosululloh yaitu adalah mencari ilmu.

Romo Kyai Sholikhin AL Hafidz saat Memberikan Mauidhoh Hasanah di Pengajian Rutin Ahad Pon

Seandainya pada waktu itu ada amalan yang pahalanya lebih dahsyat dari mencari ilmu dan dapat diperoleh dalam waktu yang singkat, tentu Rosululloh akan menunjukkanya kepada sahabat tersebut. Maka sahabat tersebut langsung menyibukkan diri mencari ilmu di waktu yang tersisa di akhir hayatnya.

Rosululloh SAW juga menjelaskan bahwa tidak ada satu pun perkara yang dapat membahagiakan beliau kecuali 2 hal yaitu orang yang menyebarkan ilmu dan orang yang mencari ilmu. Akan tetapi untuk mencapai kedua hal tersebut dan menjadikanya sebagai ibadah yang berpahala dahsyat harus melewati 2 syarat:

Jamaah Tetap Pengajian Rutin Ahad Pon

Pertama, lakukan segala sesuatu atas dasar ketaatan kepada Allah SWT. Sebagai umat, tentunya harus selalu berdoa agar ditambah ketaatan dan keistiqomahan dalam beribadah. Namun ibadah yang dilakukan setiap hari oleh kaum muslim tidak semudah yang dibayangkan. Sebab masyarakat dalam melakukan ibadah sering merasa keberatan, dan masih lebih ringan melakukan pekerjaan daripada ibadah. Hak tersebut disebabkan karena ibadah memiliki nilai pahala yang besar, maka godaan untuk meraih pahalanya juga berat.

Ibadah tidak akan pernah terlaksana kecuali jika seseorang memaksa untuk memulainya. Cara memulai pemaksaan ibadah adalah dengan memaksa dan menekan hawa nafsu. Sebab karakter seperti disebutkan dalam kitab tanwirul qulub adalah sifat su’ul adab (adab yang jelek=dipastikan itu adalah nafsu). Sedangkan Allah SWT memerintahkan kita untuk menjadi pribadi yang beradab.

Jamaah Hikmat dan Fokus Mencatat Isi Pengajian

Kedua, selain nafsu yang memberatkan ibadah, menjaga pahalanya amal ibadah itu juga lebih berat. Terkadang pada saat pintu ibadah terbuka, maka orang-orang akan berbondong-bondong untuk semangat ibadah. Tetapi ibadah yang dilakukan sia-sia karena mayoritas tidak mampu menjaga pahala amalanya. Pahala amal itu bisa terjaga melalui 2 pintu yaitu melalui baabu to’ah dan baabul qobul. Agar kedua pintu itu terjaga maka hendaknya jangan sampai terjangkiti oleh penyakit hati yang merusak pahala amal seperti ujub, iri dengki, hasud dan sebagainya.

Mujib ADD’23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *