
Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU) Kabupaten Ponorogo menggelar acara diklat Da’i-Da’iyah, dalam rangka regenerasi kader dakwah serta peningkatan kualitas para Da’i-Da’iyah dalam mensyi’arkan dakwahnya. Diklat Da’i-Da’iyah ini dihelat pada Ahad Pon, 24 September 2023 di Auditorium Muzdalifah Pondok Pesantren Darul Huda, Mayak Tonatan Ponorogo. Sekretaris LD PCNU, melaporkan bahwa dalam acara ini berhasil menghadirkan kurang lebih 160 peserta yang dihimpun dari perwakilan 21 MWC di Ponorogo serta dari Pondok Pesantren se-Kabupaten Ponorogo. Dimana target awal dari LD PCNU hanya 150 peserta. Sasaran dari diklat ini adalah para Da’i-Da’iyah yang memiliki peran penting dalam dunia dakwah islam dibawah naungan PCNU Ponorogo.

Dalam acara pembukaan, Sekretaris PCNU Kabupaten Ponorogo, Dr. KH. Luthfi Hadi Aminudin, M.Ag menyampaikan bahwa tantangan dakwah di masa kini menjadi semakin berat, mengingat perkembangan zaman yang terus mengalami kemajuan. Meskipun para peserta yang hadir terdiri dari dua generasi dakwah (colonial dan milenial), namun beliau menegaskan bahwa diklat ini bertujuan untuk memperluas wawasan dan gagasan para Da’i-Da’iyah sebelum terjun ke masyarakat. Hal ini dilakukan agar para Da’i-Da’iyah mampu beradaptasi dengan segala kondisi yang ada, sehingga dari kedua generasi dakwah tersebut bisa terus survive untuk melanjutkan perjuangan dakwah sesuai dengan bidang masing-masing.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Huda, Mayak Tonatan Ponorogo, KH. Abdus Sami’ Hasyim dalam kesempatan ini juga menyampaikan bahwa, diklat ini merupakan jembatan awal bagi para Da’i-Da’iyah untuk mampu menyampaikan ilmu yang sudah didapatkan, utamanya bagi mereka yang berasal dari Pondok Pesantren. Beliau juga menyampaikan bahwa, melalui diklat ini diharapkan semakin banyak Da’i-Da’iyah dari jebolan pesantren yang terjun dimasyarakat. Agar ilmu yang didapatkan dari pesantren mampu dirasakan juga oleh masyarakat yang masih “Ngelak (Baca: Haus)” akan ilmu agama. Mengingat masih banyak masyarakat pelosok di Ponorogo khususnya, yang belum mendapatkan sentuhan yang cukup tentang ilmu agama. Dengan diklat inilah, beliau menegaskan bahwa perjuangan dakwah tersebut harus dilanjutkan oleh generasi Da’i-Da’iyah masa kini.

Turut hadir dalam acara ini, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur, Dr. H. M. Hasan Ubaidillah, M.Si yang sekaligus memberikan materi tentang “Retorika Dakwah Progresif (Implementasi Dakwah Secara Holistic: Dakwah Bil Lisan, Bil Kitabah & Bil Medsos)”. Dalam materi tersebut beliau menyampakan bahwa kunci utama untuk menjadi seorang Da’i-Da’iyah adalah harus mampu menyelesaikan keminderan dalam diri sendiri terlebih dahulu, agar pesan yang tersampaikan kepada audience bisa runtut. Disamping itu, seorang Da’i-Da’iyah juga harus paham dan tahu dengan kondisi audience dilapangan, agar apa yang disampaikan pada saat dakwah bisa sesuai dengan kapasitas keilmuan yang ada. Sehingga dakwah yang disampikan mampu diserap secara menyeluruh oleh audience yang hadir.

Pada sesi kedua, narasumber berikutnya dilanjutkan oleh Ketua Aswaja Center PCNU Ponorogo, Dr. Iswahyudi, M.Ag. Dalam diklat ini beliau mengangkat tema “Managemen Dakwah Kekinian”. Beliau menegaskan bahwa, tantangan dakwah di era digital ini cukup berat, sehingga dibutuhkan calon Da’i-Da’iyah yang visioner dan militant, sehingga mampu menghasilkan sebuah Social culture Management untuk masyarakat Nahdliyin khususnya.
Beliau juga menyampaikan bahwa dengan mayoritas masyarakat Nahdliyin di Indonesia yang meningkat setiap tahunnya, maka dibutuhkan banyak sekali Da’i-Da’iyah untuk dijadikan sebagai penyambung lidah dan sanad keilmuan dari pada Ulama pendahulu. Selengkapnya beliau juga menambahkan, hal tersebut bisa terlaksana jika dibarengi dengan motivasi dakwah yang kuat dimana dakwah dapat membuktikan bahwa keimanan seseorang bertambah, menjadi ciri dari umat terbaik dan mendapatkan ajrun yang mengalir terus menerus. Sehingga, perjalanan dakwah yang diharapkan nantinya akan benar-benar tepat sasaran dikalangan Nahdliyin Ponorogo.

Berlanjut pada sesi ketiga yang dilaksanakan setelah Sholat Dhuhur berjamaah, materi disampaikan oleh Kyai Muhammad Nur Sholihin Al Hafidz dengan tema “Kiat-kiat Menjadi Da’i yang Proporsional”. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan bahwa syarat untuk menjadi seorang Da’i adalah kendel (berani) dan jangan pernah menolak jika diminta untuk mengisi acara (dakwah).
Terkait dengan problema yang kerap dialami oleh para Da’i-Da’iyah baru, beliau mengatakan bahwa semua pendakwah memiliki cara dan metode tersendiri untuk mengatasinya dan akan selalu muncul secara spontan dari pengalaman dan jam terbang. Lebih lanjut beliau juga memberikan sebuah motivasi penguat mental jika para Da’i-Da’iyah mengalami demam panggung/ lemah mental, yaitu dengan mengucapkan “aku gagak, koe tunggak”, dengan harapan mampu mengatasi mental down sebelum melakukan dakwah.

Pada sesi terakhir, pendalaman materi dan RTL disampaikan oleh Wakil Ketua Tanfidziah PCNU Ponorogo, KH. Sugeng A Wahid, M.Si. Pada kesempatan ini beliau menyampaikan bahwa tindak lanjut dari diklat ini harus segera dilakukan. Pasalnya dari PCNU sendiri juga sudah menyiapkan wadah bagi para alumni diklat untuk melanjutkan dakwah di bidang masing-masing. Lebih jelas beliau menyampaikan bahwa PCNU Ponorogo kembali mengaktifkan Radio Aswaja FM, dimana salah satu program unggulannya adalah program dakwah yang di isi oleh Da’i-Da’iyah baru sebagai ajang untuk personal branding. Berangkat dari Radio Aswaja FM inilah, pada pendakwah dari PCNU Ponorogo yang dulunya belum banyak dikenal masyarakat, saat ini menjadi lebih dikenal.

Selanjutnya beliau juga menyampaikan bahwa, untuk beradaptasi dengan perkembangan IT yang semakin maju, PCNU juga memberikan wadah berupa Website untuk para Da’i-Da’iyah yang melakukan dakwah bil kitabah. Dengan peningkatan media dakwah pada ranah digital ini, diharapkan para pendakwah lebih kreatif dan inovatif dalam melakukan dakwah, yang notabene tidak selalu melulu dilakukan dari panggung ke panggung.
Beliau juga menambahkan terkait dengan personal branding, bahwa untuk MWC yang sudah memiliki majelis ta’lim, maka diperbolehkan untuk saling tukar pendakwah agar jangkaun dakwah dari para Da’i-Da’iyah bisa lebih luas. Hal ini dilakukan agar para pendakwah baru hasil dari diklat ini bisa segera terjun ke masyarakat dan cepat dikenal, agar masyarakat juga lebih tersadar bahwa banyak kader-kader dari Nahdliyin yang memiliki kemampuan untuk memberikan dakwah kepada jama’ah.

Sebelum acara di tutup, Sekretaris LD PCNU Ponorogo, Kyai Noor Abidin, M.Pd menambahkan bahwa untuk mempermudah koordinasi dan segera bisa menindak lanjuti hasil dari diklat yang dilaksanakan, maka LD PCNU Ponorogo yang di koordinir oleh beliau, akan membentuk komunitas sesuai dengan bidang dakwah yang dipilih (bil lisan, bil kitabah & bil medsos/konten). Hal ini dimaksudkan agar konsep dakwah yang selama ini terstigma bahwa “dakwah adalah muballigh” bisa sedikit berubah. Pasalnya dakwah itu tidak hanya untuk muballigh saja, namun sangat luas dan mencangkup banyak sekali bidang dan bisa dilakukan secara komprehensif.
Kontributor: Mujib ADD ’23





Sip.bahasanya mudah di fahami dan komunikatif
Hebat…ra kleru pak suamiku milih bolo pak mujib
Pemilihan Pemateri yang Tepat dan profesional…
Penyampaian materi sangat berbobot dan mudah di pahami semua kalangan.. Tidak bikin ngantuk dan bosen.. LDNU LUAR BIASAAA
Terimakasih,
LDNU Cab. Ponorogo pancen joss