Pengajian Rutin Ahad Pon, Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU) Ponorogo

Ahad, 03 desember 2023, Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU) Kabupaten Ponorogo menggelar pengajian rutin Ahad Pon sekaligus launching buku khutbah yang dicetak oleh tim Aswaja Center PCNU Ponorogo. Turut hadir dalam pengajian tersebut jajaran Masyayikh Ponorogo diantaranya KH. Solekhan Al Hafidz, Kyai Muhammad Nur Sholikhin, KH. Sugeng Al Wahid, KH. Hasyim Asy’ari dan masih banyak lagi.

Pengajian rutin Ahad Pon di Masjid NU Ponorogo

Pada kesempatan kali ini LD PCNU menghadirkan beliau Romo Kyai Hanif Abdul Ghofir (Pengasuh Pondok Pesantren Darun Naja, Jalen Ponorogo) sebagai pembicara. Meskipun tanpa pemberitahuan dengan undangan atau semacamnya, kegiatan pengajian rutin ahad pon ini sudah menjadi rutinitas bagi warga Nahdliyin di Kabupaten Ponorogo. Sehingga jamaah yang hadir pada hari ini diperkirakan mencapai lebih dari 2.000 orang.

Jamaah pengajian rutin Ahad Pon

Acara dibuka dengan pembacaan tahlil yang dipimpin langsung oleh beliau KH. Solekhan Al Hafidz sekaligus sebagai penanda bahwa rangkaian acara pengajian telah dimulai.

KH. Solekhan Al Hafidz memimpin tahlil

Selanjutnya diteruskan dengan launching buku khutbah dari Aswaja Center yang kali ini secara simbolis langsung diserahkan oleh beliau Dr. Iswahyudi, M.Ag, Ketua Aswaja Center PCNU Ponorogo, kepada beliau Rois Suriah PCNU KH. Solekhan Al Hafidz.

Simbolis Launching Buku Khutbah oleh Ketua Aswaja Center, Dr. Iswahyudi, M.Ag kepada Rois Suriah PCNU KH. Solekhan Al Hafidz

Pada acara inti, Romo Kyai Hanif Abdul Ghofir menyampaikan beberapa hal yang amat sangat penting diterapkan di zaman akhir ini tentang pentingnya ilmu dan ulama’. Diantara yang disampaikan oleh beliau adalah sebagai berikut:

Romo Kyai Hanif Abdul Ghofir, Pengasuh PP Darun Naja, Jalen Ponorogo

Pertama, kita semua punya kewajiban untuk mengingatkan siapapun yang lupa,dan menunjukkan menunjukkan kebenaran pada orang yang sesat. Meskipun kita sendiri terkadang juga lupa dan terkadang juga belum benar. Akan tetapi, mengingatkan kepada sesame saudara muslim adalah kewajiban.

Kedua, ketika kita memiliki ilmu dan pengetahuan kemudian diminta mengajar, jangan pernah menolak dengan alasan tidak/ belum pantas. Karena mengajarkan ilmu itu juga memiliki hokum wajib sebagai pertanda bahwa ilmunya bermanfaat. Jika kita bilang tidak/ belum pantas, maka itu termasuk takabur (karena sejatinya tidak ada seorangpun yang mengatakan dan mengakui bahwa kita bisa). Banyak orang yang aslinya biasa tapi pura-pura memperlihatkan kepada sekitar bahwa dia tawadhuk (padahal itulah sejatinya takabur yang sesungguhnya). Ketika diberi amanah untuk mengajar, hanya boleh ditinggalkan dengan alasan syar’i, contoh ada urusan pribadi atau keluarga yang tidak bisa ditinggalkan atau diwakilkan, bencana alam dan sebagainya. Jangan sampai meninggalkan atau menolak perintah untuk mengajar dengan alasan tidak/ belum pantas (karena alasan tersebut lebih bermakna ke takabur).

Romo Kyai Hanif Abdul Ghofir, Pengasuh PP Darun Naja, Jalen Ponorogo

Ketiga, dizaman sekarang orang akan sulit mengenali kyai dan hanya tahu karena tampilanya, hanya mengenali ahli qiro’ dari suaranya. Karena zaman sekarang penuh dengan tipu daya. Banyak orang yang hanya macak biar terlihat seolah-olah memerankan sebuah peran asli. Padalah nyatanya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Maka kita dituntut untuk selektif dan mengenal alim ulama agar tidak tersesatkan dan tertipu oleh penampilan. Begitu juga dengan orang alim, harus pasang bendera agar diketahui, harus menampakkan diri agar dikenal, dan harus eksis agar mampu memerangi penyesatan-penyesatan yang sudah marak terjadi. Karena jika orang alim tidak mau tampil.maka yang akan tampil pasti adalah orang yang lebih bodoh dan menyesatkan, bermodalkan penampilan untuk mengelabuhi umat.

Keempat, NU dididirikan adalah untuk membendung program penghancuran umat. Salah satu cara menjauhkan umat dari kyai dan ulama’ adalah dengan slogan kembali kepada Qur’an dan Hadits. Padahal kebanyakan yang mengatakan itu adalah aliran-aliran garis kiri yang ekstrim yang menghilangkan dasar hokum lain seperti ijma’ dan qiyas yang semuanya berpusat pada ulama’.

Kelima, standar ulama’ yang harus diikuti itu haruslah alamiah, ilmiah dan amaliah. Kalau ada orang yang ngaku2 alim tapi tidak terdeteksi sejarah keilmuanya, maka jangan di ikuti,meskipun dia terlihat pintar (alim). Karena perbuatan seperti itu (memiliki kepintaran seperti orang alim) iblis saja bisa melakukan bahkan melebihi yang dilakukan manusia, maka tidak perlu heran jika di zaman ini terjadi seperti itu, karena ini semua sudah di dawuhkan kanjeng Nabi. Umat sekarang banyak yang terjebak pada kondisi tersebut sehingga tidak bisa membedakan apakah berada diruang ilmiah atau bukan. Untuk bisa menghindari kesesatan yang semakin merajalela, kuncinya adalah dengan istiqomah, bukan dengan melalaikan ilmu.

Himbauan pemasangan tulisan ciri-ciri Masjid/Mushola NU

Diakhir acara, Ketua Aswaja Center, Dr. Iswahyudi, M.Ag menyampaikan dan menghimbau warga Nahdliyin untuk memasang identitas/ ciri-ciri Masjid di lingkungan masing-masing dengan tulisan yang sudah dibuatkan oleh tim Aswaja Center tentang amalan-amalan yang dilakukan oleh warga Nahdliyin di Masjid-Masjid NU lingkungan masing-masing lengkap dengan dalilnya. Sehingga jika dikemudian hari terdapat upaya penyesatan umat, warga Nahdliyin tidak kekurangan sumber acuan untuk menjawab sekaligus memerangi penyesatan yang terjadi.

Kontributor: Mujib ADD’23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *