Oktober, 29 2023

Ahad, 29 Oktober 2023, Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU) Kabupaten Ponorogo menggelar pengajian rutin Ahad Pon yang mana pada kesempatan ini masih dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN). Bertempat di Masjid NU Ponorogo, Turut hadir dalam pengajian tersebut jajaran Masyayikh Ponorogo diantaranya KH. Solekhan Al Hafidz, Kyai Muhammad Nur Sholikhin Al Hafidz, KH. Sugeng Al Wahid, KH. Hasyim Asy’ari dan masih banyak lagi.

Pada kesempatan kali ini LD PCNU memghadirkan pembicara muda yang dulu sempat mengenyam pendidikan kepesantrenan di beberapa pondok pesantren di Ponorogo. Beliau adalah KH. Yasir Muhtar, Lc dari Jakarta yang sekaligus sebagai pengasuh PP. Darussalam Bikang Basel.

Pengajian yang rutin digelar setiap Ahad Pon ini dihadiri tidak kurang dari 2000 jamaah tetap, yang berasal dari jamaah Fatayat, Muslimat, Anshor dan masyarakat umum disekitar Ponorogo. Dalam pengajian yang disampaikan oleh beliau, kita mendapati beberapa pemikiran penting yang patut dipertimbangkan. Ada beberapa pesan yang bisa kita ambil dari tulisan ini.

Pertama, kita diingatkan tentang resolusi jihad dan bagaimana kita harus memandang sisa umur kita. Syair Ali bin Abi Tholib mengingatkan kita bahwa hidup untuk kesenangan dunia saja adalah sumber kebodohan. Hadratus Syaikh Hasyim Asyari menyampaikan bahwa kehidupan ini bisa menjadi murah jika kita bersedia membayarnya dengan syurga.
Ali bin Abi Tholib mengemukakan bahwa bahkan jika seseorang hidup 1000 tahun dalam kenikmatan, bebas dari sakit dan permasalahan dunia, itu masih tidak sebanding dengan 1 malam di dalam kubur. Hadis riwayat Sahabat Anas memberikan pesan penting tentang mengingat mati sebagai penghancur kenikmatan dunia.

Kedua, Kuburan mengintatkan dan memberikan gambaran kepada kita sebagai tempat keterasingan, kesendirian, tanpa cahaya, penuh kengerian, dan tanpa fasilitas, dihuni oleh cacing dan hewan-hewan tanah yang memakan jasad manusia. Sahabat berkata bahwa meninggalkan urusan dunia adalah tindakan bijak, dan yang terbaik adalah meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkan kita.
Dalam pengajian kali ini juga menggarisbawahi pentingnya pemaknaan kehidupan dan mengingat bahwa kematian pasti akan datang, bahkan saat kita berharap untuk meraih kemenangan. Pemimpin harus diangkat dengan mempertimbangkan marwah ulama, dan kita diingatkan untuk tidak menggunakan nama ulama dalam urusan politik, karena itu dapat merendahkan martabat mereka.

Ketiga, Para jamaah juga dihimbau untuk meneladani kisah tentang Abu Bakar yang tidak ingin masuk surga tanpa orang yang mencintainya lebih dulu masuk surge. Kisah ini menunjukkan pentingnya cinta dan persatuan dalam agama. Dengan cinta dan persatuan maka syafaat dihari akhir tentu akan mudah didapatkan oleh umat diakhir zaman ini.

Pada Akhir kajian, Kyai Muhammad Nur Sholikhin Al Hafidz sebelum memimpin do’a juga menambahkan, ada tiga hal yang dianggap akan membawa kenikmatan dalam kubur: Pertama, senang dekat dengan masjid, Kedua, menjaga silaturahim, dan Ketiga, menunaikan ibadah umroh atau haji. Semua ini adalah pesan yang mengingatkan kita untuk menjalani hidup dengan makna dan fokus pada akhirat.
Kontributor: Mujib ADD’23




