Ahad Pon: Ngaji Rutin, Halal bi Halal dan Khurmat Jamaah Haji dan Umroh ASBIHU An Nahdliyah Ponorogo

Ahad pon, 21 April 2025, Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU)

Ngaji rutin ahad pon dibulan shawwal ini dihadiri oleh bayak jamaah yang berasal dari berbagai penjuru kecamatan, desa maupun dusun yang tergabung dalam fatayat, muslimat dan jamaah lain. Terhitung tidak kurang dari 2.000-2.500 jamaah hadir di hamana Masjid NU ahad pon pagi sejak pukul 05.30 WIB. Pembicara pada acara ngaji rutin ahad pon kali ini adalah Mustasyar NU Magetan Romo KH. Mansyur Abdullah, yang sekaligus sebagai Pengasuh PonPes Al Mafaza Magetan.

Jamaah Tetap Ngaji Rutin Ahad Pon

Hadir juga pada acara tersebut Romo KH. Sugeng Al Wahid yang pada kesempatan kali ini juga mewakili PCNU untuk memberikan sambutan. Dalam sambutannya beliau menyampakan bahwa ada 3 acara pada ahad pon kali ini: pengajian rutin, halal bi halal, hurmat calon jamaah haji dan umroh KBIHU NU/ASBIHU An Nahdliyah Ponorogo. Mewakili PCNU beliau halal bi halal dengan jamaah dan berharap untuk saling ikhlas memaafkan. Kembalikan jati diri ke fitrah agar dosa-dosa kita semakin berkurang dan siap menghadap keharibaan Tuhan dengan husnul khotimah. Karena manusia sudah terlanjur hidup, mau mati sekarang masih banyak dosa, mau mati lebih lama dosa terus bertambah.

KH. Sugeng Al Wahid dalam Sambutan Mewakili PCNU

Hadir pula Romo Kyai Marhaban Ahmad yang pada kesempatan kali ini menjadi pembawa acara sekaligus mewakili ASBIHU An Nahdliyah, beliau menyampaikan: rombongan jamaah haji dan umroh ASBIHU An Nahdliyah akan di dampinhi oleh Kyai-Kyai NU, diantaranya Kyai Marhaban, Gus Fauzi, Gus Kholid, Gus Prof Huda dan masih banyak lagi. Dengan harapan semoga ibadah di sana lancar dan bisa membimbing seluruh jamaah dengan hikmat saat melakukan ibadah haji maupun umroh. Mewakili para jamaah beliau juga berpamitan kepada para hadirin pengajian rutin ahad pon dan meminta doa agar diberi kelancaran. Tak lupa beliau juga mendoakan kepada seluruh hadiri agar segera bisa menyusul untuk menunaikan rukun islam yang ke 5 tersebut bersama dengan para Kyai NU di Ponorogo.

Kyai Marhaban Ahmad, Mewakili Jamaah Haji dan Umroh Berpamitan dan Meminta Doa Kepada Para Hadirin

Pada acara inti, KH. Mansyur Abdullah menyampaikan satu pertanyaan yang cukup membuat para jamaah berfikir untuk menjawabnya “setelah halal bi halal apa yg harus kita jaga?”

Romo KH. Mansyur Abdullah, Mustasyar NU Magetan sekaligus Pengasuh PonPes Al Mafaza Magetan

Setelah halal bi halal itu lebih penting dr halal bi halal. Dalam surat Al Hujurat ayat 10 dijelaskan bahwa: “sesungguhnya orang yang beriman itu adalah saudara, maka jagalah kebaikan diantara saudara-saudaramu, maka taatlah pada perintah Allah agar kalian mendapat belas kasihnya Allah.”

Romo KH. Mansyur Abdullah, Mustasyar NU Magetan sekaligus Pengasuh PonPes Al Mafaza Magetan

Dalam Tafsir baidhowi dijelaskan: “Allah sudah menetapkan sesungguhnya ukhuwah perdaudaraan dalam 1 agama dan 1 iman itu lebih kuat dari pada ukhuwah persaudaraan dalam 1 nasab/ 1 keturunan. Jika dalam 1 keturunan nasabnya beda maka nasab terputus, karena ini adalah ketentuan syariat.

Hikmat dan Fokus, Jamaah Mencatat Isi dan Materi dari Ngaji Rutin Ahad Pon

Ada 2 inti yg harus perhatikan:

  1. Persaudaraan dalam 1 agama dan 1 iman itu lebih kuat dari pada ukhuwah persaudaraan dalam 1 nasab/ 1 keturunan. Kanjeng Nabi berhasil membangun ukhuwah dalam 1 keimanan. Maka saat ini ukhuwah dalam agama harus lebih kuat. Dulu orang arab ukhuwah nasabnya sangat luar biasa, tapi Kanjeng Nabi berhasil meredam dan meletakkan bahwa ukhuwah dalam agama harus lebih kuat, dengan alasan seperti yang dijelaskan para ahli tafsir “karena ukhuwah nasab bisa putus jika tidak 1 agama.” Ukhuwah agama tetap kuat meski tidak sama nasabnya dan tidak pernah putus selama masih 1 agama. Umat Kanjeng Nabi itu berasal dari berbagai ras dan nasab, tapi memiliki rasa persaudaraan yg kuat.
Romo KH. Mansyur Abdullah, Mustasyar NU Magetan sekaligus Pengasuh PonPes Al Mafaza Magetan

2. Ahli tafsir dalam Al Hujurat ayat 10 menjelaskan bahwa penghianatan saudaramu dalam ukhuwah nasab tidak akan pernah membatalkan ukhiwah agama, ini juga ketentuan syariat. Kejahatan atau penghianatan dalam bentuk apapun dalam ukhuwah nasab tidak akan membatalkan atau memutus ukhuwah agama. Orang yg dijahati tentu nafsunya ingin membalas, padahal syariat menetapkan bahwa kejahatan itu tidak membatalkan ukhuwah keislaman dan keimananya. Hal ini mudah diucapkan tapi sulit dipraktikkan, dan inilah yg dibangun oleh Kanjeng Nabi. Tidak ada perintah untuk membalas kejahatan, tapi perintahnya adalah untuk selalu berbuat baik kepada saudara seiman.

Calon Jamaah Haji dan Umroh ASBIHU An Nahdliyah Ponorogo

Perintah berikutnya adalah untuk taat kepada Allah sebagai tanda bahwa umat mematuhi perintah Allah bukan menuruti nafsunya sendiri dengan membalas dendam. Seandainya ini di jaga terus, maka halal bi halal hanya jadi formalitas saja. Saat ini halal bi halal hanya simbolis, tapi dalam hati masih belum memaafkan dan belum mengikhlaskan.

Calon Jamaah Haji dan Umroh ASBIHU An Nahdliyah Ponorogo

Jika ukhuwah kuat, maka kemajuan agamapun menjadi mudah dan bisa menjaga apa yang sudah dibangun dan diwariskan oleh Kanjeng Nabi dan tidak membutuhkan banyak biaya. Karena akhir zaman kata Kanjeng Nabi memiliki tanda bahwa kekuatan agama itu penyokong utamanya adalan dana. Yang menyebabkan islam lemah adalah karena umat yang terlalu banyak melanggar syariat. Wujud ukhuwah adalah dengan gampang memaklumi (memaafkan) apa saja yang di lakukan oleh orang lain, tidak perlu di permasalahkan apalagi digunjingkan karena apa yang dilakukan oleh orang tersebut memang sudah tabiatnya, jadi cukup dimaklumi saja.

Kontributor: Mujib ADD’23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *